Saturday, February 16, 2008

Mereka Turun ke Jalan

Mereka yang hidup dengan lepra. Mereka kadang dijauhi oleh masyarakatnya. Mereka dianggap bagian yang terkutuk. Padahal penyakit ini disebabkan oleh bakteri mycobacteriteriumleprae, bakteri yang menyerang saraf sensorik dan motorik pada penderitanya. Tak ada lagi rasa panas, dingin, atau sakit di bagian tubuh yang terjangkiti. Setelah terjangkiti, perlahan demi perlahan bagian tubuhnya hilang dimakan bakteri. Seperti kaki atau tangannya. Mereka terkadang menganggap dirinya tak diterima lagi oleh lingkungannya, pula keluarganya, hingga tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain turun ke jalan untuk melanjutkan sisa hidup mereka. Keterampilan tak mereka punyai. Mereka hanya punya sisa tangan yang tengadah pada pengendara. Mereka tak takut Satpol Pamong Praja yang senantiasa menghardik.
Dalam hidup ini memang ada banyak pilihan. Tapi terkadang hanya beberapa orang saja yang diberi kesempatan. Life Must Go On!



Mengharap belas kasih dari yang berlebih

Menyeret Roda Hidup

Thursday, January 31, 2008

Sang Penganggur


“Pengangguran itu merah Jenderal. Semerah amarah,..”

Tahun 2007 baru sebulan berlalu. Tepat 11 bulan setelah aku menamatkan pendidikan yang selalu menjadi harapan orang tuaku agar kelak bisa menjadi “orang”. Aku tahu mereka sangat berharap bisa kubuat bangga. Paling tidak, ketika bertemu keluarga lainnya. Atau, tidak kubuatkan mereka masalah yang bisa mencemarkannya. Ketika kuputuskan untuk menjadi seorang sarjana. Sebenarnya tak terlalu penting untuk kukabarkan pada mereka. Meskipun jarak sekolah terakhirku tak kurang 11 kilometer dari rumah. Ada suara yang berbisik, kebahagiaan mereka tak terperi kiranya mereka akhirnya tahu. Apa guna buat mereka pikirku? Suara bisikan itu menimpali: susah untuk dijelaskan bung, pokoknya mereka harus tahu. Begitulah seterusnya, sampai akhirnya aku mengajak mereka ikut ritual yang tak kupahami jelas artinya.

Sarjana. Sudah 11 bulan ia kusandang. Apa gerangan maksud gelar itu? Apakah ia seperti sebuah kasta sosial? Seandainya arti Sarjana itu bagus, apakah itu ada manfaatnya buat diriku atau buat yang lain? Ia, walau tak gampang kudapat, sebenarnya akhirnya kudapat karena ingin menggugurkan kewajiban dari orang tua akhirnya. Sebab kampus tempat aku membayar sejumlah rupiah tak berguna seperti harapanku. Ia sekadar memasilitasi pergaulanku saja. I didn’t get what I paid. Kalau mau dihitung-hitung dagang artinya rugi. Untunglah ada sejumlah manusia yang baik hati dan bisa diajak bersekutu. Aku memilih belajar Ilmu Politik, tapi tak kudapat sepenuhnya apa yang aku mau. Hanya sejumlah omong kosong belaka. Jadi tak pantas kiranya gelar itu menyertai namaku.

Ketika bersekolah S1, banyak kawan yang meramalkan keterampilanku bisa mengantarku ke jurang kesuksesan. Betulkah? Aku belum bisa menjawabnya, sebab hingga kini sebuah predikat masih membungkusku. Ia selalu menghinaku lewat derai air hujan, atau angin malam yang menusuk tulang. Perkataan atau tatapan dari orang lain sepertinya terasa memedihkan. Kenapa aku selalu merasa terkurung darinya? Atau semua ini hanya suara pembisik saja yang tak jelas di mana sumbernya.

begitulah keadaanku sekarang ini. Aku tak lebih seperti seorang pensiunan yang lupa bagaimana cara membunuh rasa sepi dalam dirinya. Setiap hari adalah hari libur yang penuh lembur, lebur bersama penganggur lainnya. Jadi sebenarnya, terlalu mulia jika pangkat Sarjana melekat pada diri ini. Diri ini hanya seorang anak Pasar Cidu yang mencoba meraih bintang di ufuk sana.

Tak lama berselang saat kutulis ini, terdengar samar dari televisi tetangga:

“ Bukankah hidup ada penghentian
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya,….”

(Sang Penghibur, Padi)

31 Januari 2008, 23: 13, Tamalanrea

Thursday, December 27, 2007

Koleksi Foto yang Terakhir Saya Upload

Pagi di Paotere

Lingkaran Halo di atas Hotel Quality

Aksi teatrikal Firman Djamil cs. untuk menyikapi Pilkada Sulsel

Thursday, November 29, 2007

Saya Pusing Jadi Orang Indonesia

Mereka masih turun ke jalan, entah sampai kapan? Ini tanggung-jawab penguasa

Pilkadal di kampung saya baru saja usai ( 5 Nov). Ada yang menggugat --tentu dari kubu lain, ada yang menunggu janji-janji yang pernah terlontar dibayar, pula ada yang tetap pesimis dengan keadaan yang sementara berlangsung di Sulsel kini. Apa yang terjadi sebenarnya? Kubu pemenang menjanjikan pendidikan dan kesehatan gratis. Apakah hal itu betul-betul nyata? Saya belum percaya. Hal itu menurutku hanya bohong belaka dari seorang pembual yang pandai mengelabui orang banyak. Sebab, seorang bijak dari seberang berpendapat bahwa penguasa atau politisi jaman sekarang tak lebih seperti seekor ular yang selalu berganti kulit. kulitnya saja yang terganti, bisanya tetap mematikan. Kalau penguasa pun begitu, ia bisa saja menggunakan baju koko dan kopiah agar dicap bertakwa, rajin menyantuni pengurus masjid agar dilabeli dekat dengan umat, sementara usai pulang dari masjid, nyambung ke Night Club atau di kamar hotel nyabu bersama teman-temannya yang lain. (Tren pejabat yang berlaku sekarang seperti ini kurang lebih)

Masih dengan perihal perkataan orang bijak itu, di masa yang akan datang, kurang lebih 14 tahun kemudian, penguasa-penguasa yang sementara ini berkuasa di masa itu sudah banyak yang tewas. Mungkin ada yang kena serangan jantung, stroke atau penyakit lainnya yang kerap diidap oleh orang kaya. Jadi, bangsa ini membutuhkan lowongan pekerjaan sebagai pemimpin-pemimpin yang seperti dijabat oleh orang-orang yang sementara menjabat ini. 14 tahun itu bukan waktu yang lama, tanpa disadari putaran jarum di arloji kita sudah membawa kita ke masa itu. Pasti, jika ingin semua yang ada di bangsa ini selamat, seperti yang selalu dicita-cita-luhurkan, kita harus mempersiapkannya. Tentunya dengan konsep yang seideal mungkin.

Tapi, apakah mungkin 14 tahun ke depan itu kondisinya akan lebih bagus atau bangsa ini sudah hangus, jika calon-calon penguasa ini (usianya sekitaran umur saya) dinina-bobokan oleh kemilau permata dan gepok demi gepok rupiah di depan matanya. Contohnya, seorang teman angkatan saya yang menuduh saya sebagai orang yang bodoh karena saya memilih Golput pada Pilkadal kemarin. Saya tenang-tenang saja. Tak perlu saya menyalahkannya, sebab hal itu sudah tugasnya sebagai tim sukses dari salah satu kandidat. Paling-paling dia khawatir kehilangan poin demi poin karena demam Golput lagi marak-maraknya. Ikut gabung sebagai broker politik adalah pilihannya, orientasinya merapat dan ikut menikmati "kue" yang sementara disantap oleh mereka-mereka yang jauh dari kemaslahatan umat.

Satu contoh lagi dari seorang kawan yang malu-malu ketika ia kudapati di sebuah klub malam di Makassar. Ia pentolan HMI kala masih mahasiswa, ketika sarjana ia ikut di Campaign Team. Saya curiga, duduk di antara kawan-kawannya, ditemani beberapa jenis minuman beralkohol sambil menyaksikan penari yang hampir saja telanjang, adalah sesuatu yang tak pernah ia perkirakan akan ia alami atau singgah sebagai pengalaman hidupnya oleh karena bacaan dan diskusi-diskusi di pojok-pojok kampus. Ke mana perginya bacaan-bacaannya itu, lari entah ke mana semua konsep ideal yang dulu singgah di kepalanya. Apakah karena pengangguran yang begitu keji sehingga ia melakukan hal itu. Saya tak percaya kalau ranah ideal hanya ada di kampus belaka. Ia bersemayam di hati nurani kita masing-masing.

Musim kampanye dan Pilkadal sudah selesai,
saatnya melunasi utang-janji pada rakyat


Penguasa atau pemimpin di tiap wilayah negeri ini apakah betul representasi rakyatnya? menjadi Gubernur di Jakarta butuh duit sekitar 400 milyar yang harus dibayar ke partai-partai politik. Jakarta, kata si bijak yang tadi, kehilangan calon pemimpin yang bisa menyelamatkan warganya dari jurang kehancuran karena si calon ini miskin. Mau ambil duit di mana 400 milyar. Begitu pula di tempat-tempat lainnya yang ada di Indonesia. Mengklaim suatu kaum sebagai basis massa adalah komoditas yang laku dijual di jaman pilkadal. Partai politik adalah pintu masuk, di situ ada karcis yang harus dibayar, sudah itu masih banyak lagi tetek-bengek yang harus dilunasi. Berarti menjadi pemimpin itu tidak boleh miskin. Jawab saya, ia boleh miskin harta tapi tak boleh miskin ide dan nilai-nilai luhur yang menjunjung kepentingan sesama.

Kuli jalan tak pernah dicatat sejarah paling tidak
diperhatikan nasibnya, meski perannya
sungguh vital pada pembangunan fisik bangsa ini.

Dengan semua gejala-gejala yang dialami bangsa ini membuat saya pusing menjadi bagian dari bangsa ini. Semoga saja saya bisa belajar dan selalu berbuat adil bagi yang lain dan senantiasa tersadar bahwa hidup ini juga buat yang lain, tamak adalah perbuatan keji dan dibenci Allah. Kalau aku dibilang bodoh karena Golput, sungguh lebih baik aku memotret dan menulis daripada gabung dengan Tim Sukses,... kapan suksesnya ya?
(Teks & Foto oleh DaengAmmang)

Tuesday, October 23, 2007

::Portraite::

.: A Cup of Coffee from Grandma :.

.: Let Me Go Home! :.

Foto 1 : dipotret di Camba, nenek dari tante bapakku, ia peminum kopi yang hebat.
Foto 2 : anak kecil menangis mau pulang ketika ayahnya shalat ied, di perkampungan jamaah an-Nazir, di Gowa, 11 Oktober 2007

Wednesday, October 10, 2007

Sunday, October 7, 2007

Kebutuhan Primer Bernama Selular

Berkomunikasi dalam kondisi apa pun

Menjenguk lewat 3G

In the Waiting Room

Ada satu cerita dari pengakuan perempuan PSK ketika ia ditanya soal pekerjaannya. Ia berkilah, dalam hidupnya ada beberapa hal yang harus ia penuhi, salah satunya adalah mempunyai ponsel dengan pulsa yang penuh. Selain dari kebutuhan primer yang pernah diajarkan ketika kita masih SD (pangan, sandang dan pangan), pulsa kini masuk ke dalam sendi-sendi hidup manusia. Sudah menjadi fitrahnya, manusia diciptakan untuk saling kenal-mengenal dan bekerja sama. Manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa ada andil dari orang lain. Tapi, apakah manusia bisa hidup tanpa pulsa? Ya, tergantung konteksnya pasti!

Sudah sejauh manakah selular menular pada manusia? Apakah ia telah bercampur dalam darah manusia, atau ia senantiasa sama pentingnya dengan denyut di nadi manusia. Jawabannya ada di kepala kita masing-masing. Mungkin satu sama lain berbeda versinya, tapi mungkin saya telah lancang menyimpulkannya: "I'm Addict of Pulse"


Foto-fotoku ini hanya secuil dari fenomena yang selalu berubah-ubah pada hidup kita,... semoga bisa bermanfaat buat yang lain. Amin
!