Saturday, July 7, 2007

Adjoep-adjoep ri Mangkasara,...

waspadako gang,.. lannyakkaji koncina bodinu

dj Eqy, pallaka accampuru musi',...
tangang di atas,... awas pacope ribokonu

singkammamami pasara, i didi, jaina tau,..
ati-atiko gang, tappukaji ura' kallongnu
siapa watt lampuna anne kira-kira di',...
apina attanja dragongi,...


kukana memang sibotolo'mo, nuinungi tallu, tugguru'mako,....


kamma-kamma anne, iantu rikanayya dunia malang ri
kampongta; Mangkasara, sanna sikalimi suara'na. Wattu rioloa, Jambatan
bassi-(Jambas)-iaji niisseng. Rioloa tong, tenapa terkenal nikanayya Jack
Daniels, Red Labels, ato Tequila. Apalagi anjo nikanayya Shabu-shabu ato Putaw.
Ballo'ji sigang Anggur tjap orangtua jai tau ngissengi. Katoa memangmi kampongta
di',.. jai dudumi perubahanna, apalagi abbiringmi nia agangang tapputara-putara
ri perempatanna Pettarani. Tapi, tea'maki accarita labbu soal wattu jaman
rioloa,... kicinimi pale'na foto-fotoku gang! Adjoep-adjoep bede nakana
cucungku,...

Sunday, July 1, 2007

The Next Dream Team


Setiap pertandingan sepak bola yang diperankan oleh teman senegeri sendiri, yang diakhiri dengan kekalahan, pasti akan berujung banyak komentar yang sebenarnya pedih jika didengar oleh orang-orang yang bersangkutan dalam pertandingan itu. Hujan umpatan, semuanya miris. Tapi wajarlah, hukum yang berlaku: penonton selalu merasa lebih jago dari yang ditontonnya, ia bisa pula lebih cerdas dari komentator yang selalu membuka acara di televisi. Sementara kualitas lembaga persepakbolaan pun sebenarnya masih lebih-banyak tidak becusnya. Apa yang salah dari kualitas atlit sepak bola di Indonesia, darah sama merah, keringat sama-sama punya. Apa ya?


Sejarah persepakbolaan Indonesia pernah mencatat prestasi yang luar biasa di kancah internasional, saat menahan imbang Uni Soviet, kala itu masih jamannya Ramang dan Mauly Saelan. Termasuk pula tim usia belia yang dikomandoi Abanda dari Makassar, berjaya di kompetisi kaliber dunia. Paling tidak, dari hasil tim belia ini ada harapan untuk bisa mencetak pesepakbola sekelas David Beckham, Wayne Rooney, atau Steven Gerard. Ketiga atlit Inggris ini, bakatnya telah tampak sejak usia kanak-kanak. Berdoalah semoga Abanda yang tumbuh dari komunitas yang terkadang disisihkan, menjadi pemain yang pilih-tanding.


Foto ini, kuabadikan di pelabuhan Paotere, saat mereka usai berenang di pantai tercemar. Kalau dilihat-lihat permainannya, mereka juga calon pesepakbola handal, lho',...




Cerita Anak Danau Unhas

Melompat melayang

Menembus ketenangan air danau

Berenang ke tepi, tanda mereka usai


Ketiga foto ini masih ada hubungannya dengan Es Poteng. Anak-anak kecil ini baru pulang dari SD-nya saat kujeprat-jepret. Saat itu, satu tugas buatku: mencari foto sebaik-dan-secepat mungkin. Siang itu, aku kembali masuk ke bekas kampusku, saat melintas di sekitar danaunya, kulihatlah mereka sedang riang berenang. Tanpa pikir panjang, kubelokkan motorku dan cepat-cepat moncong lensa-kamera kuarahkan ke mereka. Saat kurasa puas, tanda aku usai, seorang Pagandeng Es Poteng melintas. Es Poteng kubuat cinderamata buat mereka yang telah menolongku dari satu tugas yang tergesa-gesa. Terimakasih juga buat para pedagang Es Poteng yang sering menolongku di beberapa kesempatan yang tak terkira.

tiga seruni cantik buat kalian,...


tiga seruni ini punya arti
untuk sebuah penghargaan bagi yang mengerti

terutama buat mereka yang berpekerti

untuk sesuatu yang sering mereka sebut prestasi

mungkin foto ini sekadar buat berterima-kasih


thank's for your vote!
(tarimakasih agang-agang baji'ku,... punna sallang sibuntulukki, punna tena nia saba', kipau'rangika, kubage-bage tong barakka'na juara tallu'a!)


Saturday, June 16, 2007

Pagandeng Es Poteng dari Galesong

Pagandeng Es Poteng di Lorong Besi; di jembatan Sungai Je'neberang
Pagandeng Es Poteng jauh-jauh datang dari Galesong (Kab. Takalar) menjajakan es tape-singkong yang lokalnya disebut Es Poteng. Kalau di Bandung ada Peyeum, di Makassar juga ada Poteng. Hanya saja Poteng kalah terkenal dengan Peyeum. Sering-terjadi, jika ada kerabat yang datang dari Bandung, membawa oleh-oleh titipan Peyeum. Atau, Peyeum sering diplesetkan menjadi singkatan dari perempuan; peyeumpuan. Neng-neng Geulis-nya Paris Van Java.
Lalu nasib Poteng bagaimana? Ia kalah bersaing dengan jajanan yang dibawa orang luar Makassar. Es krim, sosis, burger, pizza yang kini dijajakan dengan becak atau gerobak dari lorong ke lorong, menggantikan pamor Es Poteng atau Es Tong-tong seperti kala kanak-kanakku dulu. Oh,... Semoga pagandeng Es Poteng ini pulang enteng karena dagangannya habis laku terjual, bikin asap dapur rumahnya senantiasa mengepul.

Thursday, June 7, 2007

Makassar Musim Baliho; Fenomena Politik Sulsel


Biarpun sudah ada larangan, tetap saja bandel. sampai-sampai dua siswi yang melintas
di depannya ikut terpingkal-pingkal. lokasi pemotretan di perempatan karebosi.


Seperti halnya di tempat-tempat lainnya di Indonesia, yang baru belajar menerapkan prinsip demokrasi. Desentralisasi, atau otonomi daerah bukannya memberi jawaban-pasti bagi warganya yang selama ini dililit pelbagai masalah. Yang muncul, ya raja-raja kecil yang tetap menindas atau mappadongo-dongo (bahasa bugis) kaum papa, usai raja besar tumbang. Apa yang berubah setelah orde demi orde silih berganti. Apa manfaat buat si Sangkala, yang dedari dulu begitu-begitu saja. Malah, masalahnya bertambah ketika anak sulungnya minta dibelikan hengpong di MTC (ponsel/handphone)

Mencuri pandang pejalan di jejalan. Meminjam tips atau ilmu dari para kreatif-pekerja iklan. Pepolitikus makin rakus. wajah-wajahnya seolah meneror siapa saja. Di Warung Kopi, di Warung Makan, di Pete-pete, di perempatan, di tikungan, di lapangan bola, di lampu merah, di becak, di televisi, di mall, di sekolah, di buku-gratis, di gelas minuman kita, di kaca belakang mobil, di bawah plat motor, di baju tukang becak, di baju atlit PON, di koran-koran, di toko-toko, di perbatasan kota/kabupaten, di alQur'an, di kalender tetangga, di kartu ibu&bayi. Di mana saja, yang pasti bisa menohok memata kita. Apa itu bisa jadi alasan supaya mereka dipilih kelak. Kalau saya sih, sampai tulisan ini saya buat, sepertinya mantap untuk tidak memilih mereka, atau tidak memilih siapa-saja nanti di Pilkadal. Seorang Analis Politik, malah pernah mengumbar: memilih di pemungutan suara itu bisa ikut menanggung dosa kolektif, buah dari yang diperbuat orang yang dipilih. Misalnya, apa yang diperbuat George Walker Bush pada manusia di Irak, warga AS yang memilihnya, menurut pakar itu, sebenarnya ikut bersama-sama menenggelamkan dirinya di kubangan nista para politikus busuk.

Mahasiswa yang kuliah di program studi Ilmu Politik Unhas [almamater saya dulu] berkilah: 'Kalau ada yang bilang politik itu kotor. Mari kita sama-sama membersihkannya'. Benarkah akan terjadi demikian? Tak ada yang tahu. Yang pasti ulah-laku pepolitikus di Makassar, berbuah baliho, spanduk, stiker, atau tetanda lainnya di mana-mana. Industri Advertising tumbuh subur, di Makassar banyak percetakan-kagetan yang menginvestasikan mesin cetak senilai ratusan juta sampai miliaran rupiah. Politik memang selalu mengiming-imingi sesuatu yang wah, memaksa mengorbankan segalanya: dari lendir sampai keringat.

[NB:menampilkan hanya satu kandidat dari sekian, bukan bermaksud menistakan atau pro ke kandidat yang lain. tidak demikian cappo', yang pasti baliho ini yang paling menohok mata si fotografer atau orang yang melintas di depan baliho ini]

Paotere, Diwariskan untuk Dijaga

kelasi-kelasi nongkrong di tepi Phinisi, usai kerjaan tuntas.


kekotoran ini tidak muncul tiba-tiba. Ini ulah sengaja manusia.

Dedahulu, tempat ini bukan bernama Paotere. Ia lebih sering disebut Gusung, atau kampung Cambayya. Tempat berlabuh Phinisi atau Lambo yang pulang dari seberang. Hanya karena di sekitar tempat ini banyak tempat pembuatan tali tambang kapal yang dalam bahasa Makassar berarti Otere'. Paotere berarti pembuat tambang kapal. Ya, semacam home-industry-lah. Itu cerita Ayahku yang bermukim dekat dari Paotere, sejak tahun 1950-an.

Dedari dulu tempat ini memang masyhur. Tak kalah dari Pelabuhan Sunda Kelapa, di Jakarta, yang juga dipenuhi Phinisi dan Lambo dari Butta Mangkasara. Kalau Sekarang? Sekarang, pelabuhan ini masih ramai. Selain dipenuhi oleh kekapal, baik itu yang layak atau tidak-layak berlayar, juga dipenuhi sampah-sampah dari manusia di sekitarnya. Biasanya sih, kalau yang pulang hunting-foto dari Paotere, bawa oleh-oleh foto cantik. Memang tempat ini sering jadi obyek berburu para fotografer, apalagi yang mau difoto Pre-Wedding. Namun, adakah yang peduli dari akibat ulah-nista manusia yang tidak baik mewarisi temurun dari kakek-moyangnya yang katanya pelaut ulung. Paotere, sebenar tidak indah-indah amat, atau tidak layak dijadikan obyek pesiar kota atau city-tour yang biasanya buat bule-bule, sebelum kita bercermin di keruhnya air-laut Paotere.
mengangkat beban yang jauh dari berat tubuh sendiri.
Bukan untuk siapa-siapa, selain tambatan hati di rumahnya.

Atau, adakah yang peduli dengan nenasib buruh angkut-muat yang upahnya jauh dari upah minimun regional propinsi. Ya, dedulu sampai kekini, mereka selalu menjadi Sawi, yang selalu bermimpi menjadi Punggawa. Entahlah?